Saturday, October 21, 2017

Tanah Kashmir Bernama Srinagar

Tepat satu bulan yang lalu, saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Kashmir. Sudah sejak lama bermimpi untuk datang ke tempat dengan pashmina dan karpet khasnya dan pemandangan pegunungan Himalaya yg menjulang tinggi namun menurut banyak orang terkenal juga dengan konfliknya. Terbukti dari berita ini. Sempat berpikir ulang sebelum pergi apakah cukup aman untuk travelling ke Kashmir dan daerah sekitarnya. Tapi teman saya di trip ini, Akbar, bilang the show must go on. Even setelah teman kami yg terpaksa harus cancel dalam trip ini (bukan krn takut konflik kashmir ya alasan dijelaskan lebih lanjut setelah ini). Saya dan Akbar adalah teman lama dan kita kuliah di sekolah kedinasan yg sama. Awalnya saya, Akbar, dan Adit (teman kuliah yg cancel) sepakat untuk menjelajahi Kashmir lewat jalur darat sampai ke Leh. Dirasa persiapan cukup matang, sekitar 10 bulan sejak pesan tiket, buat research sampai itinerary, akhirnya hanya saya dan akbar yg bisa pergi. Too bad Adit tidak bisa pergi karena alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan walaupun tiket sudah di tangan dan visa sudah issued. Sedih juga kalau dipikir-pikir krn persiapan yg cukup matang sampai-sampai saya dan akbar tidak bisa tidur sehari semalam (okay it's too much) tapi sekali lagi "the show must go on".

Kita tinggalkan Adit sejenak. Berdasarkan referensi dari salah satu teman di couchsurfing, kami bisa kontak seroang local guide disana yang bernama Shabeer. Setelah mengubungi Shabeer dia bilang bisa jemput kami di Srinagar International Airport. Dia tinggal di tengah kota Srinagar dan berdasarkan chat terakhir dia bilang dia bisa antar kami ke Leh dan kebetulan orang tuanya pemilik salah satu houseboat di Dal Lake. Benar-benar berita bagus setelah Adit tidak bisa join. Rencana awal kami memang stay semalam di Srinagar sebelum pergi ke Leh jalur darat.

Tidak lama mendarat di bandara Srinagar, kami pun langsung mengecek telpon selular dan tidak ada tanda sinyal. Terpaksa kami keluar bandara untuk mencari telpon umum untuk mengubungi Shabeer. Oh ya sebelumnya kami harus mengisi biodata di selembar kertas yang diberikan petugas bandara. Nama, pekerjaan, paspor, lama tinggal di Kashmir, dan sebagainya. Di luar bandara hanya ada beberapa orang yang menunggu. Bandara Srinagar terihat sepi pengunjung dan didominasi tentara yang berjaga lengkap dengan seragam dan senjatanya yang menggantung di leher. Meskipun begitu cukup aman karena tentara ramah terhadap pengunjung yang datang. Saat kami mencoba mencari ATM Tunai, seorang pria mendekat. Berbadan tinggi dan memegang sebuah buku tebal kami mencoba menebak apa buku tersebut. Ternyata berisi data pengunjung yang datang ke Srinagar. Kami pun diminta untuk mengisi sambil kami bertanya alamat houseboat milik ayah Shabeer. Dia merobek secarik kertas dan menulis alamat houseboat beserta tarif taksi yang bisa mengantar kami ke houseboat. Dia berkata "Over there" sambil menunjuk sebuah bangunan menyerupai counter taxi yang cukup dekat dari tempat kami berada. Segera saya dan Akbar pergi menuju counter dan memutuskan mengambil uang tunai di ATM di tengah kota. Kami pun pergi, tidak lupa mengucapkan "Syukria". Bahasa Kashmir yang berarti terima kasih.

Salah satu jalan di Srinagar
Selalu menarik bagi saya begitu keluar dari bandara suatu negara. Melihat pemandangan warga melakukan aktivitas sehari-hari, kita bisa mengetahui kebiasaan atau local customs yang biasa dilakukan. Dari bandara menuju Cheerful Charley Houseboat, tempat kami akan menginap di Dal Lake, menempuh waktu 30-45 menit. Tiba di Dal Lake, kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Houseboat, literally rumah yang berbentuk kapal, tersusun rapi di atas danau yang tenang. Aslam, ayah mertua Shabeer telah menunggu kedatangan kami. Ditemani putrinya, Aslam menyambut kami sangat ramah seakan kami anggota dari keluarganya yang baru pulang merantau. Padahal kami baru pertama kali bertemu saat itu. Mereka pun mempersilakan kami pergi menuju houseboat untuk beristirahat. Sebelum sampai houseboat, kita perlu menggunakan Shikara (perahu kecil). Bisa berisi 5-6 orang, Shikara merupakan moda trasportasi utama yang dipakai penduduk Dal Lake sehari-hari. Sebagai keramahan lokal, Aslam membuatkan kami segelas teh hangat sambil bercerita awal mulanya houseboat berdiri. Dia mulai bercerita bagaimana ayahnya dulu merawat houseboat tersebut sampai akhirnya wafat dan mewariskan kepada Aslam. Dia berjanji akan mengantar kami mengelilingi Dal Lake nanti sore sambil melihat sunset. Luar biasa senang sampai sampai kami tidak bisa istirahat mengingat perjalanan yang cukup melelahkan dan mengabiskan malam sebelumnya di bandara New Delhi. Aslam pun pergi sebentar untuk menelpon Shabeer untuk memberitahu kami telah sampai. Kami pun memanfaatkan waktu untuk untuk bersih-bersih sekaligus menikmati pemandangan Dal Lake yang begitu tenang namun menakjubkan. Bergantian menggunakan kamar mandi, saya duluan. Akbar pergi ke bagian depan houseboat. Merenung. Cuma bercanda pastinya mengambil foto lewat kamera telpon selulernya yang special edition itu.
Papan J&K Tourism di dermaga Dal Lake

Shikara atau kapal kecil
Selesai pembersihan kami pun diajak Aslam untuk bertemu Shabeer yang telah menunggu di salah satu tempat makan miliknya. Ada rasa penasaran bagi saya seperti apa orang yang akan menemani kami selama perjalanan darat dari Srinagar ke Leh. Jarak tempuh 434km. Tidak banyak yg diketahui, mid 30, bekerja sebagai guide, Shabeer terlihat seperti orang Kashmir pada umumnya. Tinggi 165cm, muka ditutup dengan kumis dan bewok yg lebat, dia cukup lancar berbahasa Inggris walaupun terkadang kami tidak mengerti apa yg dibicarakan karena yang terlalu cepat. Setelah perkenalan kami pun menyampaikan itinerary kami dan bertanya apakah bisa dilakukan. Road trip Srinagar-Leh dianjurkan ditempuh selama 2D1N dimana menginap semalam di Kargil. Selain itu ada juga yang 3D2N menginap di Kargil dan Alchi atau Uleytopo. Karena akan lebih baik menginap semalam di Kargil selain untuk istirahat dan juga untuk tubuh kita beradaptasi terhadap ketinggian (aklimatisasi). Aklimatisasi sangat penting untuk mencegah AMS (Altitude Mountain Sickness). Singkatnya AMS itu penyakit yang disebabkan perubahan ketinggian yang sangat cepat dan tubuh kita belum cukup beradaptasi. Gejala terkena AMS mulai dari sakit kepala, mual, susah tidur, sampai pingsan. Kalo ada salah satu dari gejala itu muncul sangat disarankan untuk turun ke tempat dengan ketinggian lebih rendah. Leh berada dik ketinggian 3.500 metes di atas permukaan laut jadi kami pikir kami harus menyesuaikan tubuh dengan ketinggian tersebut. Jadi kami memilih 3D2N dan akan menginap di Kargil dan Alchi. Sore itu tidak banyak yang kami lakukan. Selain masih lelah karena perjalanan jauh kami pun makan sambil berdiskusi tentang perjalanan ke Leh besok. Shabeer bersedia mengantar kami ke Leh dengan mobilnya sendiri. We're leaving early tomorrow, maybe around six in the morning" ujarnya yakin. Tidah terasa langit mulai berubah jadi gelap, saya, Akbar, dan Aslam pergi kembali ke houseboat setelah berpamitan dengan Shabeer. Saya mampir ke ATM ; Akbar beli logistik untuk perjalanan besok seperti buah-buahan, wafer, dan air mineral.

Shikara Ride
Menjelang senja kami sempat mengelilingi Dal Lake menggunakan Shikara. Melihat matahari terbenam terasa sangat spesial disini apalagi ketika cahaya jatuh di atas houseboat. Salah satu sunset moment yang tidak akan pernah saya lupakan. Setelah mandi malam, kami diajak makan bersama dengan keluarga Aslam. Menu khas Kashmir, Mutton ditambah spicy kami melahap habis makanan yang dimasak oleh istri Aslam. Setelah mengucap "Syukria" kami pun kembali ke kamar houseboat. Istirahat.
Sunset di Dal Lake

Keeseokan pagi Aslam sudah siap mengantar kami. Jam setengah 6 pagi kami sudah bangun solat tanpa mandi. Air panas ternyata belum ada karena masih sangat pagi dan orang-orang baru mulai aktivitas jam 8. Kami mengemas tas dan berpamitan dengan keluarga Aslam sambil mengucapkan terima kasih atas pengalaman selama di Dal Lake. Di seberang houseboat terlihat kabut tipis yang menemani kami di atas Shikara. Aslam yang mengemudi. Spontan Akbar nyeletuk "I don't know you're riding Shikara". Aslam hanya memberikan senyuman kecil. Berarti dia mengiyakan atau tanda dia belum mengawali rutinitas di pagi hari hanya Aslam dan Tuhan yang tahu. Kurang lebih 15 menit kami menunggu akhirnya Shabeer datang. "What's up guys? Sorry I'm late". Kami pun segera menaikkan tas dan logistik yang sebelumnya dibeli di pusat kota. Berpamitan dengan Aslam. Syukria. Leh,we're coming!

Sisi depan houseboat

Aslam, pemilik houseboat

Travel Notes:
1. Rate semalam Cheerful Charley Houseboat: 2100 rupee
    No HP Aslam Dongala +9419065385
2. Shikara (sekali jalan) : 50 rupee
3. Bawa botol air minum karena di berberapa tempat makan di Kashmir bisa refill air

Tuesday, September 12, 2017

Wisata Arung Jeram di Sukabumi

 Akhir bulan Juli ini kebetulan saya dapat kesempatan untuk ikut pelatihan di Jakarta. Gak banyak ekspektasi sih secara dari jaman kuliah udah terbiasa dengan hiruk pikuk yang ditawarkan ibukota yg satu ini. Jadi udah gak berasa special lagi begitu. Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun, tempat kuliah sekaligus pelatihan masih terasa seperti dulu, lengang cenderung sepi. Waktu pelatihan yg cukup lama dengan ditambah rutinitas pelatihan yg itu-itu saja membuat saya merasa agak bosan. Butuh piknik kalo kata anak gaul sekarang. Pertanyaannya, apa yg perlu saya lakukan untuk me-refresh pikiran? Dan pergi kemana?

Kereta dari Bogor turun di Stasiun Cibadak
Pernah kepikiran mau rafting bareng pasangan tapi rencana ini udah dari lama sekali. Kesibukan masing-masing ditambah tinggal di beda kota jadi lah kami harus mengatur jadwal dari jauh hari sampai saya dapat penawaran pelatihan di Jakarta barulah coba pilih tour yg bisa dipakai. Salah satu nama yg sering muncul dan recommended adalah Arus Liar di Sungai Citarik Sukabumi. Tour udah ok next cari teman jalan yg bisa diajak rafting bareng. Selain itu, rafting lebih seru berkelompok dan juga buat cari temen buat sharing cost buat sewa angkutan umum dari stasiun terakhir di Cibadak menuju lokasi rafting di Cikidang. Kebetulan uda dan istri mau ikut juga jadilah kami berempat menyusun itinerary sederhana, mulai dari tour sampai transportasi menuju Cikidang.


Sewa angkutan umum ke lokasi rafting tarif 20-25rb per orang

Unfortunately, kami kesana ketika curah air lagi sedikit +- 20cm saja dari yg biasanya 80cm. Pemandu kami bilang saat terbaik rafting di sungai citarik pada bulan oktober sampai desember.Tapi menurut saya yg baru rafting pertama di sungai jawa barat tidak lah mengecewakan. Kapan - kapan pasti balik kesini lagi dengan curah air lebih tinggi!
Tarif per 2017

Sertifikat mengikuti rafting sesuai jarak yang dipilih
Tampak depan basecamp



  





Friday, May 5, 2017

City Tour in Kupang

     Mungkin judul di atas lebih cocok kalau Anda transit dengan waktu yg agak lama di suatu bandara besar internasional, let's say Changi atau Abu Dhabi. Tapi dengan jadwal transit pesawat dengan interval waktu sekitar 16 jam, saya punya cukup waktu untuk explore kota ini.

     Jadi suatu hari GF tiba-tiba ngajak island hopping ke Labuan Bajo. Tanpa pikir panjang saya jawab iya karena udah lama sekali mau ke Pulau Padar (iya Padar dengan pemandangannya yg terkenal itu) dan pastinya lihat Komodo yg mendapat titel kadal terbesar di dunia. Kebetulan dia sedang ada pekerjaan di Kupang jadilah Kupang sebagai meeting point kita.

     Sebenarnya ada cukup banyak tempat yg bisa dikunjungi while in Kupang, contohnya Crystal Cave, Air Terjun Oenesu, Pantai Tablolong, Pantai Lasiana dan masih banyak yg lainnya. Cuma punya waktu kurang dari 24 jam, saya harus pintar pilih tempat mana yg bisa dikunjungi. Karena keesokan harinya saya sudah harus kembali ke bandara internasional El Tari untuk ambil pesawat paling pagi ke Labuan Bajo. Akhirnya saya pilih tempat yg paling terkakhir, yaitu Pantai Lasiana. Cukup dekat dari bandara (sekitar 15km) dan akses jalan lumayan jelas.
Patung di bagian depan El Tari International Airport

     Ada yg berbeda begitu sampai di tanah Kupang. Perasaan berbeda dibandingkan begitu keluar pesawat ke Tangerang atau Jakarta. Seperti ada unknown feeling, tapi saya yakin itu bukan dari first time experience saya kesana.Setelah agak jalan keluar bandara untuk ambil beberapa foto, baru lah saya tau kalau perasaan itu datang dari kehangatan orang Kupang yg senantiasa memberikan senyum setiap saya berpapasan dengan mereka. Senyum yg sangat jarang ditemui di kota-kota besar lainnya. Seakan berada di sebuah keluarga besar dan kita berada di tengahnya. Such an amazing feeling!

Mengejar Sunset
     Tak lama selesai foto di sekitar bandara, datang seorang lelaki paruh baya menghampiri. Umurnya sekitar 40an saya tebak. Dia pun bertanya 'Darimana kakak?'. Bagi masyarakat Kupang panggilan kakak ditujukan bagi panggilan orang yg lebih tua. Kakak nyong untuk laki-laki, sedangkan kakak nona untuk perempuan. Jadi jarang sekali ada yg panggil mas seperti kebanyakan di daerah Jawa. Saya jawab saja dari Semarang dan setelah cukup mengobrol tentang tujuan saya ke Labuan Bajo, dia langsung cerita soal pengalamannya dulu waktu bekerja di salah satu provider untuk membangun salah satu towernya disana. Kakak Riki namanya. Saya cerita jg mau ke pantai Lasiana. 'Cukup dekat kok dari sini bisa saya antar kalo mau' kata Kakak Riki. Ah baik sekali langsung saja saya jawab iya. Setelah nego harga akhirnya dapat harga 40rb dengan rute bandara - Pantai Lasiana - Hostel. Ada beberapa pilihan hostel atau hotel jika mau transit di Kupang. Ada hotel Trogaz (atau Torgaz?) dan hotel Flamboyan, lokasi dekat dari bandara, tidak sampai 10 menit sudah sampai dan kedua hostel itu berdekatan. Dipisah warung dan penjuan nasi goreng (malam hari). Rate nya pun cukup terjangkau: 100rb untuk non AC dan 150 rb untuk yg AC.



Pohon yang tumbuh di garis Pantai Lasiana

Sunset di Pantai Lasiana
Travel Note : nomor hp kakak Riki (ojek) : 082146238555
Biaya masuk ke Pantai Lasiana: Motor Rp 1.000 dan per orang @ Rp 2.000
No. Telpon Hotel Flamboyan : 081 237 106 111







Thursday, April 13, 2017

Resurrection

After a quite-long hiatus, saya kembali lagi menemukan blog ini untuk menulis. Alasannya cukup cliche yaitu sibuk dengan pekerjaan ditambah lagi adanya social media seperti Facebook, Twitter, ataupun Instagram yang dengan mudah digunakan setiap orang even keponakan umur 7 tahun dengan lantangnya menanyakan apa akun instagram saya (what is wrong with your toys?).

Masih terjebak di panasnya langit dan banjirnya jalanan di Semarang, saya akan menambahkan post di blog ini terutama berkaitan dengan kota tersebut. Tentu masih berkutat dengan makanan dan tempat wisatanya.

Happy Easter!   

Thursday, August 15, 2013

Part Three: Wonosobo




Dari Semarang, saya melanjutkan perjalanan ke arah barat daya, yaitu Wonosobo. Sebenarnya perjalanan ini bisa dibilang unplanned trip karena baru diputuskan saat saya berada di Semarang (hasil bujukan salah seorang teman). Saya dan 3 orang teman lainnya memutuskan untuk mengendarai sepeda motor menuju Wonosobo, dan tujuan akhir kami adalah Dataran Tinggi Dieng. Saya duduk dibonceng bersama dengan teman dari Magelang, Akbar. Ia bertugas sebagai pemegang kendali. Dua orang teman lainnya berangkat dari Solo dan kami telah sepakat untuk memilih Temanggung sebagai meeting point.

Wonosobo is a very cool place (literally). Terletak di dataran tinggi, kota ini terasa seperti Bandung, namun tetap khas dengan penduduknya yang hangat dan ramah. Sesampainya kami di Alun-Alun Wonosobo, kami berempat memutuskan untuk mengisi perut dengan makanan khas daerah sini, yaitu mie ongklok. Ada sensasi tersendiri yang saya rasakan saat menikmati mie ini. Ini dikarenakan bahan-bahan yang dicampur dalam mie ini cukup berbeda dari mie yang biasa saya makan. Mie ini diberi kuah yang terbuat dari kanji kental (berbeda dengan mie banyumas dengan kuah rebusan air bawangnya). Dan yang paling membedakan mie ongklok dengan mie lainnya adalah penggunaan potongan daun kol dan daun kucai. I have to tell you this kind of food has a great taste. Biasanya, seporsi mie ongklok ditemani dengan sate sapi sebagai pelengkap.


Mie Ongklok



Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Kurang dari satu jam, kami sampai di Dataran Tinggi Dieng. Karena pada saat itu sedang turun hujan, kami langsung mencari homestay untuk menginap. Di daerah Dieng, cukup banyak homestay atau rumah warga setempat yang bisa dijadikan tempat menginap. Kebanyakan traveller yang mengunjungi Dieng memilih untuk menginap satu malam. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan sunrise cantik di puncak Bukit Sikunir. Di sekitar kaki Bukit Sikunir sendiri banyak penginapan yang disediakan, jadi Anda tidak perlu khawatir untuk mencari tempat untuk menginap. Sebagai alternatif lain, Anda bisa membawa tenda ke atas puncak Bukit Sikunir dan camping disana. Dibutuhkan kurang lebih 20 menit untuk sampai ke puncak. Jalur pendakian cukup mudah karena terlihat jelas sehingga kita cukup mengikuti jalur tersebut untuk sampai di puncak. Di jalur pendakian Anda akan melihat hamparan bukit dan sawah warga. Udara disini masih terasa sangat segar dan bagi Anda pecinta trekking, this is the real deal. Jangan lupa untuk menggunakan jaket tebal dan sarung tangan, karena pada musim kemarau dingin di Dataran Tinggi Dieng bisa terasa menusuk tulang.


A Beautiful Sunrise lvl: Sikunir

 
A view from the peak of Sikunir


Travel Note: Anda bisa membeli camilan khas Dieng, carica, sebagai buah tangan. Carica adalah buah sejenis pepaya yang hanya ditemukan di dataran tinggi Dieng. Kini, banyak warga asli lokal yang memulai usaha carica untuk dijadikan sebagai makanan olahan seperti manisan, selai, ataupun keripik. Biasanya penjual sudah menyediakan paket-paket sehingga memudahkan pengunjung yang ingin membawa carica sebagai oleh-oleh. Feel free to bargain.

Wednesday, May 29, 2013

Part Two: Semarang



Semarang, yang merupakan ibu kota dari Jawa Tengah, membuat saya bertanya-tanya ”mau kemana kalau nanti sudah sampai di Semarang?”. Itu karena bayangan saya atas kota ini hanyalah sebatas makanan khasnya seperti bandeng presto dan lumpia. Teringat mempunyai teman yang berada di Kota Semarang, saya langsung menghubunginya. Namanya Prima, mahasiswa tingkat akhir Universitas Diponegoro jurusan Teknik Perkapalan. Saya bermaksud untuk meminta bantuannya mengajak saya berkeliling di kota dengan populasi terbesar ke-9 di Indonesia itu (peringkat pertama ditempati Jakarta). Ternyata saya datang di waktu yang kurang tepat karena Prima saat itu sedang berusaha menyelesaikan Tugas Akhirnya. Namun, dengan baik hati ia menerima permintaan saya untuk mengantar saya berkeliling di Semarang. Bahkan, ia menawarkan kamarnya untuk saya tempati selama berada di Semarang. Betapa beruntungnya saya. Prima baru saja memutuskan berhenti untuk mengontrak sebuah rumah dan lebih memilih indekos. Kamar yang ditinggalinya sekarang tergolong relatif kecil untuk ukuran kamar mahasiwa pada umumnya. Di bagian sudut kamar, terlihat tumpukan kertas yang digunakannya untuk menggambar rancangan kapal. Jendela kamarnya dibiarkan sedikit terbuka karena menurut Prima di siang hari Semarang terasa begitu panas menyengat. Sesampainya saya di kamarnya, hari telah berganti gelap dan saya pun langsung meminta izin kepadanya untuk membaringkan badan ini yang masih terasa bergoyang setelah berada di kapal laut selama kurang lebih 6 jam.
 
Sejuknya pagi hari di kota ini, diikuti dengan embun yang turun, membuat saya berat untuk beranjak dari posisi tidur saya. Tetapi mengingat waktu saya selama disini tidak banyak, saya memutuskan untuk bangkit dari tempat saya berbaring dan bersiap-siap untuk berkeliling kota Semarang, yang tentunya ditemani oleh Prima. Saya mengajaknya untuk pergi mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terkenal dengan kemegahannya itu. Mengingat hari itu hari Jumat, kami sekaligus melaksanakan ibadah shalat Jumat. Menurut Prima, orang Semarang biasa membagi Semarang menjadi dua bagian, yaitu daerah atas dan daerah bawah. Daerah atas mencakup Kecamatan Banyumanik tempat dimana Prima tinggal. Sementara, MAJT terletak di Kecamatan Gayamsari yang berada di daerah bawah. Perjalanan menuju MAJT melewati jalan yang menanjak dan turunan tajam. Sesekali motor Prima dipaksa untuk menanjak jalan, saya yang duduk dibelakangnya pun bertanya kepadanya “Tidak apa-apa, Prim?” Dia pun menjawab dengan santai “Tidak apa-apa, San. Sudah biasa.” Golongan mahasiswa seperti Prima yang kuliah di "atas" memang sudah biasa melakukan perjalanan seperti ini. Untuk menonton film di bioskop saja, ia harus “turun ke bawah” terlebih dahulu. Menurut penuturannya, hanya ada tiga tempat pemutaran film di bioskop Semarang, yang paling terkenal dan terbaru ialah XXI di Paragon Mall. Sebenarnya ada juga beberapa universitas yang berada di daerah bawah, seperti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Pasca Sarjana. Berangkat pukul 10.30, kami pun akhirnya tiba di MAJT pukul 11.10. Saya mengamati di daerah bawah lebih ramai orang yang berlalu-lalang di jalan. Kendaran bermotor pun memiliki kuantitas yang lebih banyak dibandingkan di daerah atas. Sambil menunggu waktu adzan shalat Jumat, saya pun menyempatkan untuk mengambil beberapa foto dari Masjid yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tangal 14 November 2006 silam ini.




Masjid Agung Jawa Tengah






Pilar



Selesai menunaikan kewajiban shalat Jumat, kami pun bergegas pergi mencari makan untuk santap siang. Saya berniat untuk mencicipi lunpia sebagai menu makan siang, namun Prima mengusulkan agar kami memakan nasi terlebih dahulu. Ada beberapa lunpia yang terkenal di kota Semarang, diantaranya Lunpia Express, Lunpia Mataram, dan Lunpia Mbak Lien. Saya memutuskan untuk mencoba yang terakhir. Terletak di Jl. Pemuda Grajen, Lunpia Mbak Lien hanya terdiri dari warung kecil dan gerobak tempat menggoreng lunpia. Anda dapat menjadikan Mall Sri Ratu sebagai patokan; lunpia Mbak Lien tidak jauh berada di seberangnya. Pembeli pun bisa memilih lunpia yang dipesannya, basah atau kering (digoreng terlebih dahulu). Pembeli yang ingin membawa lunpia sebagai oleh-oleh biasanya lebih memilih lunpia basah yang bisa digoreng pada saat tiba di rumah. Lunpia Mbak Lien ini memiliki cabang di Jl. Pandanaran (pusat oleh-oleh), tepatnya di depan Bandeng Juwana No. 57. Lunpia Mbak Lien ini dijual dengan harga Rp 10.000,- perbuahnya.




Lunpia Mbak Lien



Puas dengan Lunpia Mbak Lien, kami pun kembali turun ke jalan untuk menikmati senja di Kota Semarang. Namun, cuaca pda saat itu seakan tidak mendukung saya dan Prima untuk melanjutkan perjalanan. Hujan rintik-rintik mulai jatuh membasahi jalan dan kami pun terpaksa mencari tempat berteduh. Setelah menunggu sampai hujan agak reda, kami pun meneruskan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah the mystical one, Lawang Sewu. Saya dan Prima memang sengaja untuk mengunjungi tempat ini di malam hari agar kesan seram dapat terasa saat mengelilingi Lawang Sewu. Kami pun berhasil untuk menambah personil kami menjadi empat orang, teman saya Agy dan Giovanni berhasil saya bujuk untuk ikut dengan kami. Sebelum berangkat menuju Lawang Sewu, kami berempat menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di sebuah restoran cepat saji bernama Olive Fried Chicken. Saya memesan paket ayam dengan minum teh manis dengan total Rp 9.000,-. Di tempat makan ini pula saya bertemu dengan teman saya, Rizky. Secara kebetulan ia juga sedang berlibur di Semarang selepas wisuda. Betapa kecilnya dunia ini, baru seminggu yang lalu saya bertemu dengannya yang sedang jogging di alun-alun Kota Tangerang dan pada kesempatan berikutnya kami bertemu lagi di Semarang, di sebuah restoran cepat saji bernama Olive Fried Chicken. Setelah selesai makan malam yang dibumbui nostalgia (dulunya kami berempat duduk di SMA yang sama), kami pun larut dalam obrolan tentang kenakalan semasa sekolah dulu. Saya dan mereka bertiga memang berteman cukup baik pada saat itu. Agy dan prima adalah teman saya bermain futsal. Sedangkan saya dan Giovanni sempat berbagi meja ketika kami berada di kelas XII. Puas bercerita, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Lawang Sewu. Naas bagi kami, baru saja mencapai setengah perjalanan, hujan kembali turun. Mau tidak mau kami terpaksa mengentikan perjalanan dan berteduh di toko swalayan terdekat. Agak lama kami menunggu disana (waktu menunjukkan pukul 22.00), hujan pun berkurang intensitasnya (belum berhenti benar sebenarnya). Tetapi kami memilih untuk meneruskan perjalan karena khawatir Lawang Sewu akan ditutup. Benar saja, sesampainya disana, gerbang depan telah ditutup. Kami pun berdiskusi untuk menentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Disela-sela diskusi tersebut, tiba-tiba seseorang mengampiri kami dan bertanya “mau ke Lawang Sewu ya, mas?”. Belakangan kami ketahui bahwa orang tersebut ialah penjaga di Lawang Sewu bernama Pak Edi. Kebetulan Pak Edi mendapat tugas jaga malam dan tugasnya baru berakhir jam 6 pagi. Saya bercerita kepadanya bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk mengunjungi Lawang Sewu, namun di tengah perjalanan menuju kesini hujan kencang turun. Pak Edi pun mengerti dan akhirnya bersedia untuk menemani kami berkeliling Lawang Sewu. Sebelumnya, kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- untuk masing-masing orang ditambah biaya untuk Pak Edi sebagai pemandu kami sebesar Rp 30.000,-. Setelah masalah biaya selesai, Pak Edi pun langsung mengajak kami untuk berkeliling diiringi dengan kisah-kisahnya tentang Lawang Sewu di zaman penjajahan Jepang dan Belanda. Let's rock and roll.



Berfoto di Lawang Sewu 


Monday, May 27, 2013

Part One: Jepara





Merupakan salah satu kabupaten dari total 29 kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah, hal yang pertama kali muncul dalam benak saya adalah tersebarnya berbagai macam seni ukiran dan pahat di seluruh kota ini, mengingat seni ukuran adalah produk unggulan dari kota ini. Yang saya lihat tidak jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelum tiba di kota ini, hanya saja seni ukiran tersebut dipajang secara rapi di rumah-rumah warga yang mengusung industri rumahan. Rapi dan tenang adalah kesan yang pertama saya dapatkan dari kota ini. Beberapa industri rumahan tersusun rapi di sepanjang jalan Kudus-Jepara. Ibukota Kabupaten Jepara ialah Jepara dan tidak banyak angkutan umum yang beroperasi di kota ini. Selain itu, yang saya ketahui dari kota ini ialah kota lahirnya pejuang emansipasi wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Itu sebabnya kota ini sering disebut sebagai Bumi Kartini. Nama R.A. Kartini juga diabadikan sebagai nama pelabuhan di Jepara.

Berangkat dari Bandung, saya menuju Jepara dengan menggunakan bus malam. Tarifnya cukup murah dan busnya pun nyaman. Anda hanya perlu menghabiskan Rp 89.000,- saja untuk bus ini dan Anda akan diturunkan di Terminal Jepara sebagai pemberhentian terakhir. Anda pun bisa memesan tiket bus ini secara online disini. Sesampainya saya di Terminal Jepara, waktu menunjukkan pukul 06.30, saya bergegas menuju toilet umum terdekat untuk membersihkan muka dan badan. Setelah itu saya berkeliling di areal terminal untuk mencari sarapan. Pilihan jatuh ke lontong opor Bu Choiriah. Terletak di belakang terminal yang berbatasan dengan pasar, warung Bu Choiriah cukup ramai dipadati oleh pembeli yang antre di depan warung tersebut. Alhasil, butuh waktu sedikit lama bagi saya menunggu pesanan saya diantarkan. Setelah badan bersih dan perut sudah diisi, inilah waktu yang tepat untuk berbaring dan memejamkan mata di kota yang juga dikenal sebagai The Beauty of Java ini. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi saya. Ya, saya harus menunggu kelima teman saya yang lainnya terlebih dahulu. Dikarenakan berasal dari starting point yang berbeda-beda, saya dan teman sepakat untuk menjadikan Jepara sebagai meeting point sebelum menyeberang ke kepulauan Karimunjawa. Mereka berasal dari Magelang, Boyolali dan Jakarta dan saya sendiri dari Bandung. Saya memperkirakan mereka baru akan sampai di Terminal Jepara paling lambat jam 2 siang.



 Bus malam Bandung-Jepara
 

Kadung tiba di Jepara, saya memutuskan untuk berkeliling sambil menunggu teman saya yang sedang dalam perjalanan menuju Jepara. Untungnya saya telah menyiapkan situasi ini dengan cara mencari tempat-tempat wisata yang berada di Jepara sewaktu perjalanan malam hari di bus. Setelah menunggu beberapa saat, datanglah angkutan umum yang akan mengantar saya ke Mantingan, destinasi yang saya putuskan untuk dikunjungi. Di Mantingan inilah tempat dimana Makam Kalinyamat berada. Kalinyamat adalah seorang ratu dengan nama asli Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono yang merupakan Raja Demak (1521-1546). Perjalanan menuju Makam membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam. Saya pikir bisa lebih cepat daripada itu andaikata pengemudi angkutan umum K03 berwarna cokelat tersebut tidak berhenti di setiap gang jalan untuk mengangkut penumpang. Tetapi saya berusaha untuk menikmati waktu ketika berada di dalam angkutan umum tersebut. Untung saja saya dapat duduk di samping sang supir sehingga saya bisa berbincang-bincang dengannya. Berdasarkan penuturannya, beliau pernah bekerja di rumah pemotongan hewan di daerah Pondok Bambu selama 2 tahun sebelum pindah ke Jepara. Dari beliau pula, saya mengetahui masakan khas Jepara yang katanya terkenal sampai ke mancanegara. Masakan tersebut ialah Pindang Serani.
 
Setibanya di Makam Kalinyamat, saya langsung mencari loket yang menjual tiket masuk. Usaha saya tidak membuahkan hasil. Baru saya tahu ternyata untuk masuk ke dalam Makam tidak perlu membeli tiket masuk. Saya melihat banyak peziarah yang membawa anak dan sanak saudaranya untuk mengunjungi Makam Kalinyamat. Bahkan ada diantara mereka yang berasal dari luar Jepara yang rela datang ke Makam tersebut, seperti dari Demak, Kudus, dan Solo. Kebanyakan dari mereka datang untuk berdoa agar anaknya (yang turut serta dibawa) diberi kesehatan dan kecerdasan, tidak sedikit juga yang meminta agar dimudahkan rezekinya.



Tangga menuju Makam Kalinyamat


Selain Makam Kalinyamat, di kompleks pemakaman ini terdapat juga Makam R. Abdul Djalil. Beliau merupakan Sunan Jepara sekaligus seorang sufi penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Disebut-sebut memiliki nama lain Syekh Siti Jenar, ajarannya yang paling terkenal adalah Manunggaling Kawula Gusti yang memilik arti Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Makam Syekh Siti Jenar terletak sebelah kiri Makam Ratu Kalinyamat. Di bagian kanan areal pemakaman terdapat pula Masjid Astana Sultan Hadlirin atau dikenal juga dengan Masjid Mantingan.



Masjid Mantingan


Tak terasa waktu berjalan, matahari pun memancarkan sinar terangnnya dan sengatan panasnya terasa sampai ke dalam kepala saya. Saya pun mencari tempat teduh di sekitar makam dan mengeluarkan botol air minum untuk meneguk beberapa tetes air. Sembari berteduh, saya bertanya-tanya dalam hati mengapa peziarah-peziarah tersebut rela datang dari luar Jepara hanya untuk berdoa di makam ini? Apakah mereka tidak dapat melakukannya di rumah masing-masing? Atau apakah mereka mempunyai keyakinan bahwa doa mereka akan cepat dikabulkan apabila dilakukan di tempat ini? Sambil menahan kantuk, pertanyaan itu terus berputar di kepala saya seperti komedi putar di sebuah wahana bermain anak.



Peziarah


Sesaat berselang, saya mendapat kabar dari teman saya bahwa mereka telah sampai di Jepara. Lega mendapat kabar tersebut, saya bergegas meninggalkan makam Kalinyamat dan kembali ke Terminal Jepara dimana teman saya telah menunggu. Saya kembali dengan angkutan umum dan kecepatan yang sama, pengemudi yang berbeda.