Wednesday, May 29, 2013

Part Two: Semarang



Semarang, yang merupakan ibu kota dari Jawa Tengah, membuat saya bertanya-tanya ”mau kemana kalau nanti sudah sampai di Semarang?”. Itu karena bayangan saya atas kota ini hanyalah sebatas makanan khasnya seperti bandeng presto dan lumpia. Teringat mempunyai teman yang berada di Kota Semarang, saya langsung menghubunginya. Namanya Prima, mahasiswa tingkat akhir Universitas Diponegoro jurusan Teknik Perkapalan. Saya bermaksud untuk meminta bantuannya mengajak saya berkeliling di kota dengan populasi terbesar ke-9 di Indonesia itu (peringkat pertama ditempati Jakarta). Ternyata saya datang di waktu yang kurang tepat karena Prima saat itu sedang berusaha menyelesaikan Tugas Akhirnya. Namun, dengan baik hati ia menerima permintaan saya untuk mengantar saya berkeliling di Semarang. Bahkan, ia menawarkan kamarnya untuk saya tempati selama berada di Semarang. Betapa beruntungnya saya. Prima baru saja memutuskan berhenti untuk mengontrak sebuah rumah dan lebih memilih indekos. Kamar yang ditinggalinya sekarang tergolong relatif kecil untuk ukuran kamar mahasiwa pada umumnya. Di bagian sudut kamar, terlihat tumpukan kertas yang digunakannya untuk menggambar rancangan kapal. Jendela kamarnya dibiarkan sedikit terbuka karena menurut Prima di siang hari Semarang terasa begitu panas menyengat. Sesampainya saya di kamarnya, hari telah berganti gelap dan saya pun langsung meminta izin kepadanya untuk membaringkan badan ini yang masih terasa bergoyang setelah berada di kapal laut selama kurang lebih 6 jam.
 
Sejuknya pagi hari di kota ini, diikuti dengan embun yang turun, membuat saya berat untuk beranjak dari posisi tidur saya. Tetapi mengingat waktu saya selama disini tidak banyak, saya memutuskan untuk bangkit dari tempat saya berbaring dan bersiap-siap untuk berkeliling kota Semarang, yang tentunya ditemani oleh Prima. Saya mengajaknya untuk pergi mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang terkenal dengan kemegahannya itu. Mengingat hari itu hari Jumat, kami sekaligus melaksanakan ibadah shalat Jumat. Menurut Prima, orang Semarang biasa membagi Semarang menjadi dua bagian, yaitu daerah atas dan daerah bawah. Daerah atas mencakup Kecamatan Banyumanik tempat dimana Prima tinggal. Sementara, MAJT terletak di Kecamatan Gayamsari yang berada di daerah bawah. Perjalanan menuju MAJT melewati jalan yang menanjak dan turunan tajam. Sesekali motor Prima dipaksa untuk menanjak jalan, saya yang duduk dibelakangnya pun bertanya kepadanya “Tidak apa-apa, Prim?” Dia pun menjawab dengan santai “Tidak apa-apa, San. Sudah biasa.” Golongan mahasiswa seperti Prima yang kuliah di "atas" memang sudah biasa melakukan perjalanan seperti ini. Untuk menonton film di bioskop saja, ia harus “turun ke bawah” terlebih dahulu. Menurut penuturannya, hanya ada tiga tempat pemutaran film di bioskop Semarang, yang paling terkenal dan terbaru ialah XXI di Paragon Mall. Sebenarnya ada juga beberapa universitas yang berada di daerah bawah, seperti Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Pasca Sarjana. Berangkat pukul 10.30, kami pun akhirnya tiba di MAJT pukul 11.10. Saya mengamati di daerah bawah lebih ramai orang yang berlalu-lalang di jalan. Kendaran bermotor pun memiliki kuantitas yang lebih banyak dibandingkan di daerah atas. Sambil menunggu waktu adzan shalat Jumat, saya pun menyempatkan untuk mengambil beberapa foto dari Masjid yang diresmikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tangal 14 November 2006 silam ini.




Masjid Agung Jawa Tengah






Pilar



Selesai menunaikan kewajiban shalat Jumat, kami pun bergegas pergi mencari makan untuk santap siang. Saya berniat untuk mencicipi lunpia sebagai menu makan siang, namun Prima mengusulkan agar kami memakan nasi terlebih dahulu. Ada beberapa lunpia yang terkenal di kota Semarang, diantaranya Lunpia Express, Lunpia Mataram, dan Lunpia Mbak Lien. Saya memutuskan untuk mencoba yang terakhir. Terletak di Jl. Pemuda Grajen, Lunpia Mbak Lien hanya terdiri dari warung kecil dan gerobak tempat menggoreng lunpia. Anda dapat menjadikan Mall Sri Ratu sebagai patokan; lunpia Mbak Lien tidak jauh berada di seberangnya. Pembeli pun bisa memilih lunpia yang dipesannya, basah atau kering (digoreng terlebih dahulu). Pembeli yang ingin membawa lunpia sebagai oleh-oleh biasanya lebih memilih lunpia basah yang bisa digoreng pada saat tiba di rumah. Lunpia Mbak Lien ini memiliki cabang di Jl. Pandanaran (pusat oleh-oleh), tepatnya di depan Bandeng Juwana No. 57. Lunpia Mbak Lien ini dijual dengan harga Rp 10.000,- perbuahnya.




Lunpia Mbak Lien



Puas dengan Lunpia Mbak Lien, kami pun kembali turun ke jalan untuk menikmati senja di Kota Semarang. Namun, cuaca pda saat itu seakan tidak mendukung saya dan Prima untuk melanjutkan perjalanan. Hujan rintik-rintik mulai jatuh membasahi jalan dan kami pun terpaksa mencari tempat berteduh. Setelah menunggu sampai hujan agak reda, kami pun meneruskan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah the mystical one, Lawang Sewu. Saya dan Prima memang sengaja untuk mengunjungi tempat ini di malam hari agar kesan seram dapat terasa saat mengelilingi Lawang Sewu. Kami pun berhasil untuk menambah personil kami menjadi empat orang, teman saya Agy dan Giovanni berhasil saya bujuk untuk ikut dengan kami. Sebelum berangkat menuju Lawang Sewu, kami berempat menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di sebuah restoran cepat saji bernama Olive Fried Chicken. Saya memesan paket ayam dengan minum teh manis dengan total Rp 9.000,-. Di tempat makan ini pula saya bertemu dengan teman saya, Rizky. Secara kebetulan ia juga sedang berlibur di Semarang selepas wisuda. Betapa kecilnya dunia ini, baru seminggu yang lalu saya bertemu dengannya yang sedang jogging di alun-alun Kota Tangerang dan pada kesempatan berikutnya kami bertemu lagi di Semarang, di sebuah restoran cepat saji bernama Olive Fried Chicken. Setelah selesai makan malam yang dibumbui nostalgia (dulunya kami berempat duduk di SMA yang sama), kami pun larut dalam obrolan tentang kenakalan semasa sekolah dulu. Saya dan mereka bertiga memang berteman cukup baik pada saat itu. Agy dan prima adalah teman saya bermain futsal. Sedangkan saya dan Giovanni sempat berbagi meja ketika kami berada di kelas XII. Puas bercerita, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Lawang Sewu. Naas bagi kami, baru saja mencapai setengah perjalanan, hujan kembali turun. Mau tidak mau kami terpaksa mengentikan perjalanan dan berteduh di toko swalayan terdekat. Agak lama kami menunggu disana (waktu menunjukkan pukul 22.00), hujan pun berkurang intensitasnya (belum berhenti benar sebenarnya). Tetapi kami memilih untuk meneruskan perjalan karena khawatir Lawang Sewu akan ditutup. Benar saja, sesampainya disana, gerbang depan telah ditutup. Kami pun berdiskusi untuk menentukan langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Disela-sela diskusi tersebut, tiba-tiba seseorang mengampiri kami dan bertanya “mau ke Lawang Sewu ya, mas?”. Belakangan kami ketahui bahwa orang tersebut ialah penjaga di Lawang Sewu bernama Pak Edi. Kebetulan Pak Edi mendapat tugas jaga malam dan tugasnya baru berakhir jam 6 pagi. Saya bercerita kepadanya bahwa maksud kedatangan kami adalah untuk mengunjungi Lawang Sewu, namun di tengah perjalanan menuju kesini hujan kencang turun. Pak Edi pun mengerti dan akhirnya bersedia untuk menemani kami berkeliling Lawang Sewu. Sebelumnya, kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- untuk masing-masing orang ditambah biaya untuk Pak Edi sebagai pemandu kami sebesar Rp 30.000,-. Setelah masalah biaya selesai, Pak Edi pun langsung mengajak kami untuk berkeliling diiringi dengan kisah-kisahnya tentang Lawang Sewu di zaman penjajahan Jepang dan Belanda. Let's rock and roll.



Berfoto di Lawang Sewu 


2 comments:

  1. Mungkin karena postingan lama elu ini bang. Elu jadi terjebak di Semarang.

    ReplyDelete
  2. Bisa jadi bang coba gw bikin tulisan tentang macetnya jakarta atau tangerang xD

    ReplyDelete